Saat buah hati memanggil, kita seolah tidak mendengar. Seandainya kita menanggapi mereka, sekedar ucapan,"Ya." atau "Sana ! Ayah atau bunda lagi sibuk.". Anak pun dengan patuhnya menuruti perintah kita. Kalaupun mereka merenggut atau hendak menjawab, mata kita memoloti dengan tajam. Minimal gestur tubuh menunjukkan keengganan. Ajaib.
Fenomena yang telah menjadi virus merata dikalangan orangtua. Tidak memandang kalangan berpendidikan yang bergelar sarjana atau kalangan "santri" yang bergelar ustadz atau ustadzah. Miris melihatnya. Di setiap seminar atau perjumpaan orangtua yang menjadi corong terdepan yng berteriak keharusan pendidikan karakter untuk anak. Namun apakah diri mereka telah berkarakter. Menjadi garda terdepan dalam melindungi bahaya internet untuk orangtua, tetapi dirinya sebenarnya korban internet.
Pemandangan menyedihkan. Kitalah orangtua digital, orangtua gadget. Kita menjadi orangtua super sibuk, di dunia nyata dan dunia maya. Kita sibuk dengan percakapan yang melimpah di media sosial, sayangnya buah hati mengalami kelaparan batin. Gadget, sebuah benda mungil yang berfungsi membantu tugas manusia. Di mana-
mana, semua orang memakai gadget, menjadi abnormal rasanya bila kita
sendirian tanpa hp atau gadget. Sementara teman dan saudara kita mengenggam sebuah bahkan beberapa gadget.Dengan pedenya, kita merasa cukup memonitor anak melalui facebook, telegram , twitter atau sms. Menganggap semuanya beres lewat media sosial.. Orangtua dan anak mesra di media sosial, tapi kering di di perbincangan atau perjumpaan. Kita tunjukkan kebahagian keluarga lewat selfie bersama, padahal semu. Tak jarang demi ego, anak dipanggill tuk sekedar selfie bersama lalu di suruh pergi. Tragis.
Perlahan-lahan, tapi pasti kita menjadi guru terbaik. Memberikan" keteladanan" beginilah berkomunikasi dalam keluarga. Kita anggap anak adalah gangguan, kehadirannya sebagai penghambat. Mereka pun akan pelan- pelan memanggap kita sebagai penganggu saat hadir dalam kehidupannya. Beranjak dewasa, mereka mencari kehidupan sendiri. Saat menyimpang, kita paksa mereka mendengar petuah. Di saat demikian, layakkah tutur kata kita mereka dengar sepenuh hati.
Belum terlambat. Komunikasi kuncinya. Mendekatkan diri dengan buah hati melalui perbincangan hangat. Lewat tawa dan cerita masa kecil yang mengugah keakraban atau sekadar berjalan bersama. Ajak anak- anak kita mengenal dunia ini lewat paradigma agama. Jangan sampai mereka salah jalan atau berpindah jalan. Nasaalallah wa salamah.
Kedekatan semu (pseudo attachment), yaitu seakan dekat tapi sejatinya tidak. Inilah penyakit kronis yang harus kita sembuhkan. Boleh- boleh saja online kita berkomunikasi dengan anak. Tetapi bila tidak dibarengi sikap offline, akibatnya bisa diketahui. Anak menjauh dari orangtua dan orangtua tak bisa lagi mengejarnya. Jangan sampai kita merasa kenal anak, padahal temannya lebih mengenal anak kita. Ditambah, teman dan internet menjadi pembimbing sempurna anak yang telah menjadi "yatim piatu", padahal orangtua masih hidup.
Jadi, masihkah kita menganggap ringan benda kecil di tangan dan saku ? Jangan biarkan ia merenggut masa kemasan anak dengan kita. Mari bertaubat dan berbenah. Semua belum terlambat.
B
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon maaf
Memberikan komentar dengan santun dan bijak adalah diantara
kebaikan dan tata krama seseorang